Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Culture

Bali dan Sepeda Motor

Tergelitik juga mendengar cerita bapak saya ketika cuap-cuap mengenai dinamika di banjar tahun 1980-an. Tahun 1980an ketika jalanan Bali masih belum seramai saat ini,dan kendaraan pun masih bisa dihitung dengan jari. Saat itu bapak saya sangat terkesan dengan pernyataan salah satu krama ketika berlangsungnya sangkep atau rapat banjar. Kira2 begini pernyataannya,"bagaimana kalau kita jual saja banjar ini trus uangnya kita jadikan sepeda motor dan dibagikan per-KK." Celetukan ini kontan membuat gaduh peserta rapat saat itu.Beberapa malah ada yg menengahi,"sebaiknya jangan dijual,tp disewakan saja". Tapi untungnya kelian banjar saat itu bersikap bijak dengan meredam pendapat kramanya agar tidak sampai menyewakan banjar apalagi menjualnya. Tahun 1980-an bisa dibilang salah satu moment ketika modernisasi mulai merambah Bali dengan begitu derasnya. Salah satu wujudnya adalah transportasi sepeda motor yg menjadi idaman masyarakat karena dianggap praktis dan bisa menempuh j...

Lontar, Kekayaan Intelektual Manusia Bali (Kisah Menyelamatkan Lontar Keluarga) part 1

Hari itu, minggu 13 Januari 2013 bertepatan dengan moment Banyu Pinaruh selepas perayaan Saraswati kemarin, mendadak aku ingin ke Merajan Gede. Bukan untuk bersembahyang, karena aku termasuk orang yang bisa dibilang tidak sering2 amat untuk bersembahyang belakangan ini, tetapi untuk maksud melihat benda-benda pusaka warisan leluhur, terutama lontar. Kusapa Pemangku Merajan yang sedang membersihkan areal merajan dan segera kuutarakan maksud kedatanganku untuk melihat lontar-lontar merajan yang selama ini hanya kudengar dari ibuku. Respon positif kudapatkan, dan segera aku diajak untuk memasuki sebuah ruangan di sebelah utara areal merajanku. Memasuki ruangan, terus terang aku terkesima dengan keberadaan benda-benda pusaka yang dimikili oleh merajanku. Kulihat sebuah tongkat dan beberapa keris yang terlihat berumur cukup tua. Fokusku langsung mencari keberadaan lontar dan pandanganku akhirnya tertuju pada sebuah kotak kayu tua berwarna coklat kehitaman dan dibeberapa bagiannya berluban...

Selamat Datang Seniman Muda Banjar Samping Buni

            Malam itu aku mampir ke bale banjar untuk melihat latihan akhir sekaa gong anak-anak banjarku yang akan berlomba dalam festival gong kebyar anak-anak se-Kota Denpasar serangkaian event Maha Bandana Prasadha di lapangan Puputan Badung. Jarang-jarang aku melihat mereka latihan secara langsung,karena biasanya sepulang kerja aku papasan sama anak-anak kecil seniman-seniman muda ini yang bubaran setelah mereka selesai latihan. Dulu aku juga seperti mereka, antusias begitu ngeliat pemade atau kantil (salah satu instrument dalam gong kebyar) dan serasa ingin segera untuk menabuh instrument pentatonic itu. Tapi anak-anak kecil ini beruntung karena jamanku seumuran mereka, di banjar belum ada perangkat gamelan gong kebyar.Yang ada hanya perangkat baleganjur. Sementara ketertarikanku ada pada gamelan gong kebyar terutama instrument pemade atau kantil . Saking menjiwainya, terkadang secara tak sadar jari-jariku bergerak mengiku...

Kembalikan Baliku

Tulisan ini saya buat saat menunggu panggilan boarding pesawat ke Mataram. Perjalanan ke airport sebenarnya sdh sering saya lalui, tetapi baru kali ini insting menulis saya muncul. Kali ini tentang keprihatinan tentang bali selatan yang semakin krodit. Apa sebenarnya yang terjadi? Di mobil katana sederhana saya berdiskusi dengan ayah yg kebetulan hari ini menjadi sopir saya. Penyebabnya pembangunan Bali terlalu pesat tapi tanpa diimbangi oleh infrastruktur yang memadai. Sepanjang perjalanan banyak hotel baru yang sedang dibangun. Jumlah kendaraan mengular di jalan berjam-jam. Solusi dari ini adalah perlunya pemerintah yang tegas dan bekerja serius. Menegakkan regulasi dan membuat terobosan. Membatasi kemanjaan masyarakat dan tetap di jalur pengembangan pariwisata budaya seperti yang telah dicanangkan pemimpin Bali dahulu.

Cerita Mengenalkan Musik Etnik Bali di Jakarta

Siang itu, situasi sangat genting. Mobil katana biru yang kutumpangi terjebak macet di jalan raya kuta komplit dengan hujan deras yang mengguyur sejak pagi. Suasana hati semakin galau ketika kulihat jam tangan menunjukkan pukul 14.20, sementara pesawatku boarding pukul 15.00... Arghhh, mudah2an nanti flightnya delay karena cuaca buruk... Jarak tempuh yang tinggal sedikit tiba2 menjadi sangat lama karena kulihat antrian kendaraan yang mengular di pintu masuk Bandara Ngurah Rai... Kulihat jam tangan, waktu boarding tinggal 20 menit. Dengan sabar dan sedikit akrobat dalam menyetir akhirnya aku berlarian menuju terminal keberangkatan, dan arrrgggghhhh.... ternyata flight yang kutumpangi kali ini disiplin alias tidak delay. Monitor yang tergantungg itu menunjukkan kalau flightku sudah boarding, ssstttt tetapi belum final call, mudah2an masih ada harapan untuk bisa ikut flight ini. Tapi harapan itu sirna ketika petugas check in maskapaiku dengan ramah menyebutkan bahwa aku tidak bisa ikut fl...

Antara Tradisi dan Adaptasi Musik Bali

Jujur saja, kesenangan memotret sedikit tidaknya memberikan perubahan pada saya. Obsesi memiliki kamera DSLR sejak 4 tahun lalu baru bisa terwujud 2 tahun lalu ketika mendapatkan bonus pertama, hahaha...Dan bisa ditebak, mulai 2 tahun itu pula selalu saya sempatkan diri untuk mengeksplorasi kemampuan memotret mulai dari mencari objek sederhana yang ada di lingkungan sekitar, sampai dengan sengaja datang ke suatu event khusus untuk memotret peristiwa-peristiwa panggung yang selalu menarik bagi saya. Perubahan yang paling saya rasakan adalah saya menjadi lebih sensitif terhadap hal-hal yang saya temui. Seperti saya dipaksa tidak hanya melihat sesuatu hal dari satu sudut pandang. Ya, simplenya saya menjadi terbiasa melihat sesuatu hal dari mata biasa dan mata kamera. Mata kamera seakan memaksa otak saya lebih peka untuk mencari sebanyaknya informasi mengenai objek yang saya bidik, tentunya dengan lebih detail. Kebetulan objek memotret favorit saya adalah foto panggung, khususnya musik. Da...

Sanur Village Festival, Pesta Tradisi Bercitarasa Internasional

Tanggal 18 s/d 22 November kemarin begitu spesial bagi warga Kota Denpasar karena di pesisir pantai Sanur diadakan sebuah event yang penyelenggaraannya memasuki tahun ke-6, apalagi kalau bukan Sanur Village Festival (SVF) atau biasa disingkat Sanfest. Lebih spesial lagi, karena di event yang sama bergabung pula sebuah event berskala nasional yaitu Pekan Flora dan Flori Nasional (PF2N) yang merupakan pameran produk hortikultura unggulan dari tiap-tiap propinsi di Indonesia. Hal spesial lainnya adalah dipindahnya lokasi penyelenggaraan event dari yang sebelumnya di areal Inna Grand Bali Beach Hotel, ke arah utara yaitu di pinggir pantai Matahari Terbit dengan areal yang jauh lebih luas yaitu 9 hektar. Materi festival sebenarnya tidak berbeda jauh dengan tahun sebelumnya dimana ada performance dari musisi tradisional dan modern di main stage, kuliner, village cycling, lomba dan pameran foto, parade budaya, coral plantation, yoga dan beberapa kegiatan lainnya. Tiap hari ribuan pengunjung m...

Patung Catur Muka

Sebagian besar masyarakat Kota Denpasar pasti sudah tahu tentang patung Catur Muka. Yak, patung berkepala empat ini terletak di perempatan agung Kota Denpasar, dan sekaligus menjadi titik nol dari kota yang mengusung konsep kota budaya ini. Tapi tidak banyak yang tahu mengenai sejarah dan arti dari patung ini, dan tulisan di blog saya kali ini semoga bisa menambah pengetahuan kita bersama. Patung Catur Muka yang berdiri diatas bunga teratai adalah reinkarnasi dari Sang Hyang Guru dalam bentuk perwujudan Catur Gophala. Dengan mengambil perwujudan empat muka adalah simbolis pemegang kekuasaan pemerintahan yang dilukiskan dalam keempat buah tangannya. Catur Gophala memegang aksamala/genitri yang bermakna bahwa pusat segalanya adalah kesucian dan ilmu pengetahuan. Cemeti dan sabet mengandung arti ketegasan dan keadilan harus ditegakkan oleh pemerintah. Cakra berarti siapapun yang melanggar hukum dan peraturan harus dihukum. Sungu artinya pemerintahan berpegang pada penerangan atau undang...

Bali Kites Festival

Bali Kites Festival tahun 2010 diselenggarakan selama 2 hari yaitu dari tanggal 24 s/d 25 Juli 2010 di Pantai Padanggalak Denpasar. Festival sekaligus perlombaan ini seakan menjadi ajang wajib bagi mayoritas banjar di seputaran Denpasar, Badung, Tabanan, Gianyar dan bahkan tahun ini ada peserta yang berasal dari Karangasem. Yah, di Bali layangan merupakan suatu permainan semua generasi yang juga digunakan sebagai komoditi budaya dan religi. Layangan di Bali dipercaya sebagai simbolisasi Sang Hyang Rare Angon yang berjasa dalam mensukseskan panen para petani. Sang Hyang Rare Angon ini disimbolkan dalam rupa seorang anak kecil yang bermain suling diatas punggung kerbau (mirip tokoh Khrisna kecil). Dahulu layangan sering dimainkan oleh petani dan anak-anaknya sambil menjaga sawah mereka. Sekarang, dengan semakin sempitnya lahan terbuka di Denpasar, layangan sering dimainkan di gang-gang dan lantai 2 rumah masing-masing. Seperti tahun-tahun sebelumnya, lomba layangan kali ini ini juga diba...

Exotic Denpasar

Sore itu aku baru pulang kerja...Hmmm, ga biasanya pulang sesore ini. Jam tangan alba yg menempel di pergelangan tangan kiri masih menunjukkan pukul 18.00. Segera mandi dan ganti baju, akhirnya aku meluncur menelusuri jalan Gajah Mada. Kawasan yang kata ibuku dulu merupakan tempat yang paling sering didatangi sama kakyang (kakek) dan ibu untuk beli baju baru.... Memang pusat ekonomi Denpasar dulu ada di sepanjang jalan ini karena merupakan akses utama menuju pasar terbesar di Bali yaitu Pasar Badung dan Pasar Kumbasari. Sekarang dengan banyaknya mall dan pusat2 perbelanjaan, kawasan ini mulai ditinggalkan dan oleh Pemerintah Kota dijadikan kawasan heritage (cagar budaya). Tapi bagiku taksu kawasan ini ga hilang.Memang Gajah Mada dengan Pasar Badung dan Kumbasari bukan lagi jadi pusat ekonomi, melainkan aset budaya yang sangat menarik untuk didokumentasikan dalam lensa. Salah satu sudut di Jalan Gajah Mada tepatnya di perempatan lampu merah. Dari titik ini, jika kita mengarah ke utara a...

Kabupaten Jembrana vs New York USA

Yap betul, sebuah kabupaten kecil di Bali bertarung dengan kota besar yang hidup 24 jam nan jauh disana, New York USA. Bukan bertarung dalam Piala Dunia atau Olimpiade, tapi di Pesta Kesenian Bali XXXII tepatnya di Festival Gong Kebyar... Sekeha (kelompok) Gong Kebyar dari Kab. Jembrana sedang beraksi... Rata2 dari mereka masih muda dan duduk di bangku SMA. Sekeha (kelompok) Gong Kebyar dari New York USA sedang beraksi... Kelompok mereka campuran antara personil Bali - USA dan campuran pria-wanita. Anak kecil yang beraksi dalam fragmentari Kab. Jembrana, begitu energik dan penguasaan panggung yang memukau. Fragmentari yang memukau duta dari New York, dengan lakon Dewi Uma yang berubah jadi Dewi Durgha... Persahabatan antar 2 bangsa yang bisa dijalin melalui kesenian... Keren ya...

Omed-Omedan

Seru banget sewaktu hunting foto omed-omedan di Sesetan. Mulai dari cari lokasi motret (ngaku jadi mahasiswa ISI, biar dapet posisi bagus), sampe berkelit dari siraman air dan hampir jatuh dari venue fotografer. Semua itu demi mendokumentasikan ajang budaya tahunan, omed-omedan... Peserta Omed-omedan yang kaget ngeliat pria yang akan menjadi pasangannya... Ekspresinya dapet ya... Akhirnya beradu juga, hehehe... Sayang anak muda dari luar Banjar Kaja ga bole ikut.. Pas mereka bergulat, panggung fotografer sudah mengeluarkan bunyi "kriak" tanda mau roboh, tapi untung ga kejadian. Biar seru, sebelum beraksi para peserta disiram dulu... hehe... Jadi ceritanya, tradisi omed-omedan ini bermula dari sepasang babi yang sedang bergulat asmara di wilayah Banjar Kaja. Sejak itu musibah penyakit yang melanda seketika hilang. Dan akhirnya petinggi Banjar Kaja pun diundang untuk beraksi di tradisi omed-omedan...

Pesta Kesenian Bali

Jujur saja, Pesta Kesenian Bali selalu menjadi agenda tahunan yang kutunggu-tunggu. Banyak hal yang bisa digali di event ini, mulai dari seni yang hampir susah ditemui hingga kesenian kontemporer karya seniman muda dengan pergaulan globalnya... Berikut jejak-jejak PKB 32 yang terekam dalam kamera Canon EOS 1000D saya. Salah satu hasil karya kuliner para gadis dan ibu-ibu dari seluruh kabupaten/kota se-Bali di hari kedua PKB tahun ini. Jejeran wayang kulit yang ditawarkan pada pengunjung di salah satu sudut taman budaya. Harganya berkisar antara 30.000 s/d 70.000 tergantung besar kecilnya wayang. Pagelaran Nyastra yang sarat petuah, tapi seret penonton...Penontonnya lebih banyak belanja diluar stage wantilan yang jadi tempat penyelenggaraan Nyastra ini... Pentas Drama Gong di stage elite Ksirarnawa, tetep sepi pengunjung. Kali ini mengangkat tema Manik Angkeran duta Kabupaten Tabanan. Sambil nunggu pentas kendang mebarung dari Jembrana, anak-anak ini mengekspresikan jiwa seninya dengan ...

Gender, Jazz-nya Bali

Adalah sebuah instrumen musik tradisional Bali yang tetap dilestarikan hingga kini. Perlu diketahui Bali yang kecil ini ternyata memiliki segudang instrumen alat musik. Mulai dari alat musik yang paling kuno seperti selonding sampai pada instrumen kontemporer ala seniman-seniman jebolan kampus seni. Adalah yang menjadikannya berbeda ketika instrumen satu ini memiliki kekhasan dalam menggenggam alat pemukulnya. Jika sebagian besar instrumen pukul dalam gamelan Bali posisi alat pemukul yang ada ditangan terletak di sela ibu jari dan telunjuk, maka dalam instrumen gender posisi alat pemukulnya berada diantara (dijepit) jari tengah dan telunjuk. Karena posisi pemukul gender yang berada diantara jari tengah dan telunjuk,maka dibutuhkanlah tuas yang agak pendek sehingga tumpuan tuas atau tumpuan gerakan berada di pergelangan tangan, berbeda dari alat musik yang lain yang berada di siku atau lengan. Ini dikarenakan posisi pemukul yang berada diantara jari tengah dan telunjuk tidak sekuat jika...

Wanita Bali

Jumat kemarin aku baru balik dari hotel baru greesss di kawasan Gatsu Barat Denpasar. Bukan untuk melayani tante2 kesepian, tapi untuk mengikuti LS. Mau tahu apa itu LS? Leadership Seminar dari sebuah MLM. Sebenarnya agak males juga ikutan seminar yang begituan. Karena setiap kali ikutan seminar begituan, mata ini tak kuasa untuk menemukan kegelapan dibalik kelopaknya, tidur... Tapi sehubungan dengan berbagai pertimbangan yang ada, akhirnya aku ikut... Sampai disana,saltum, hehehe. Salah kostum. Aku pake kostum biasa-biasa aja, sementara orang-orang di sekitarku tampil bak pengusaha-pengusaha sukses. Yap, misi rata-rata kebanyakan MLM memang seperti itu. Tapi pede aja. Seminar dimulai, yah isinya ga jauh-jauh dari seminar-seminar MLM lainnya. Bedanya kalo seminar-seminar MLM lainnya yang pernah aku ikuti diadakan di rumah-rumah atau gedung2 kecil Kali ini di hotel. Isi seminar yang kebanyakan menceritakan tentang dream (mimpi) yang akan terealisasi jika kita sungguh2 menjalani bisnis i...

Klepon Gianyar

Kamis minggu ini aku tugas ke Gianyar bersama teman-temanku di kantor. Ada 5 orang dalam mobil itu. Sebenarnya tugasnya simple, just take a document! Tapi kenapa yang ikut sampai 5 orang? Namanya juga marketer, waktu diluar kantor jangan disamakan dengan didalam kantor. Jadi mau ngapain ya bebas2x aja. Asalkan pekerjaan beres. Hari itu, hari yang spesial karena salah satu teman marketing akan pindah tugas ke divisi lain (ceritanya perpisahan), jadi biarpun tugasnya simple, ya kita garap rame2... Seperti biasa, ada acara makan2... Dan setelahnya, hhmmmm... Ini yg seru. Kalo makan babi guling Gianyar udah biasa (coz udah keseringan).... Makan klepon Gianyar? Nah ini baru luar biasa. Bagiku klepon Gianyar udah ga asing lagi, karena jika ke Gianyar aku sempatkan waktuku untuk bertandang ke sebuah jalan kecil di utara Puri Gianyar, namanya jalan Angantaka. Yang membuatnya terkenal adalah rasanya. Beda dengan klepon pasar yang lain. Selain ga make zat warna kimia (makenya daun suji), rasa pa...

Ubud Desa Internasional

Ubud lagi, ubud lagi. Ya mau bagaimana lagi. Akhir-akhir ini inspirasi saya selalu mengarah ke Ubud karena saya sering kesana. Ubud memang eksotis. Terasering sawahnya selalu jadi langganan di beragam postcard. Juga beragam seniman tinggal disini. Kentalnya tradisi Bali menjadikan Ubud memiliki ciri khas dibanding tempat wisata lain di Bali. Saat tempat lainnya berlomba-lomba menyenangkan wisatawan sesuai selera pasar, Ubud tetap mengembangkan pariwisata dengan menjunjung local genius yang dimilikinya. Makanya, kalo ngajak temen ke Bali ajak aja ke Ubud supaya bisa melihat the real paradise of Bali.