Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Economic

Negara Boneka

Maaf kalau dalam tulisan kali ini saya banyak menyebutkan merk. Ini karena keprihatinan saya tentang negara kita, Indonesia. Keprihatinan yang cukup wajar karena merk-merk ini adalah produk-produk yang biasa kita gunakan sehari-hari. Pernahkah teman-teman menyangka, kalau penjajahan sedang terjadi di Indonesia. Jangan berpikir tentang penjajahan selama 3,5 abad oleh Belanda atau 3,5 tahun oleh Jepang terhadap negara kita. Penjajahan gaya kolonialisme sudah bukan jamannya lagi. Model penjajahan masa kini adalah model ekonomi dan budaya. Dua sektor itu yang umumnya paling banyak digunakan. Saat bangun pagi, biasanya kita akan mandi dan umumnya merk2 produk mulai dari sabun, shampoo dan pasta gigi tidak jauh2 dari brand Unilever.Brand yang sangat kuat positioningnya di negara kita ini berasal dari luar negeri, tepatnya di Eropa sana. Kemudian berangkat menggunakan motor atau mobil, bebas merknya dan rata2 itu buatan luar negeri juga.Mau  Honda, Suzuki, atau Yamaha, itu produk Jepa...

Money Management

Akhir bulan adalah waktu yang ditunggu-tunggu oleh orang-orang yang ada di kantorku. Karena jam 00.00 di tanggal 25 sms yang masuk ke handphone masing-masing adalah informasi mengenai rekening kita yg sudah kemasukan gaji... Senang sih senang, tapi kalau kita ga bisa ngatur gaji yg masuk rutin tiap bulan ke rekening kita ya percuma aja. Mungkin dalam jangka waktu yg pendek, kita bisa merasakan benefit dari gaji kita. Yah, menikmati hiduplah seperti kebanyakan orang bilang. Traktir teman, beli sepatu, shopping2 ke tempat belanja, atau makan2 di tempat mahal. Dan satu yang mungkin ada di setiap pos pengeluaran anda adalah " bayar hutang ." Entah hutang cicilan motor, mobil, atau kartu kredit. Kadang kita berpikir, kalau kita bekerja hanya untuk bayar hutang. Padahal kita, tidak hanya hidup saat sekarang. Kesadaran ini biasanya agak kurang di kalangan anak muda alias lajang yang notabene baru bisa menghasilkan uang. Suatu kali saya pernah baca buku yg ditulis oleh ahli manajeme...

Multi Level Marketing (MLM)

Sial, kenapa saya kemarin janji untuk datang ke seminar bisnis MLM yang diadakan hari ini ya? Padahal saya paling ga bisa mengikuti seminar seperti itu. Ujung-ujungnya pasti ketiduran... Hari ini saya di sms oleh teman kantor untuk mengingatkan bahwa nanti siang jangan sampai lupa untuk datang ke seminar sebuah bisnis MLM. Saya memang ikut sebuah MLM dan diajak oleh teman kantor. Dan yang paling menusuk adalah sms kedua dimana downline saya telah masuk ke tingkatan yg lebih tinggi dan akan menerima penghargaan di sela seminar tersebut. Terus terang, keikutsertaan saya di MLM tersebut bukanlah keinginan sendiri, bukan juga karena paksaan, tapi susah dikatakan. Bisa dibilang alasannya adalah untuk menjaga hubungan baik dengan teman kantor, apalagi rata-rata teman kantor sudah ikut MLM tersebut. Waduh, bukannya saya antipati terhadap marketing, atau antipati terhadap MLM. Tapi seringkali produk yg ditawarkan adalah produk yang bukan menjadi concern saya... Kalau teman-teman mengikuti blog...

Who Move My Cheese?

Who Move My Cheese? Dulu sewaktu di perusahaan lama, saya dipinjamkan buku yg judulnya seperti diatas oleh atasan saya. Bukunya simple, tapi isinya ga sesimple bukunya.... Isinya tentang 2 ekor tikus dan 2 kurcaci yang memperebutkan keju dengan karakternya masing2x.. Sungguh sangat terkesan, dan saya kira keempat karakter yang ada di buku ada dalam diri kita masing-masing (untuk tahu karakternya apa aja, baca aja bukunya). Tergantung kita mau milih yang mana... Tapi kalau mau survive di kehidupan ini, kita harus milih karakter yang mau bekerja, berinovasi dan tidak menunggu perubahan nasib. Itulah yang saya lakukan di kantor saya yang dulu. Karena saya melihat tidak ada perubahan berarti selama bekerja disana, saya harus mencari jalan lain dalam satu labirin yang bernama kehidupan untuk mencari keju yg baru yg bisa memenuhi ambisi saya. Itulah hidup, dan jangan pernah menyesal terlalu jauh jika kita sudah menentukan pilihan. Karena menentukan sebuah pilihan jauh lebih berarti ketimban...